TEMPO.CO, Sumenep – PT Gudang Garam Kediri tak terlalu agresif membeli tembakau petani. Hingga kini, Gudang Garam baru membeli sebanyak 39 ton tembakau petani di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Jumlah ini tidak sampai 1 persen dari rencana pembelian sebanyak 1.600 ton musim ini.

Wakil Kuasa Pembelian PT Gudang Garam Kediri di Sumenep, Freddy Kustianto, mengatakan rendahnya jumlah pembelian tembakau ini disebabkan sedikitnya petani yang menjual tembakaunya ke PT Gudang Garam.

Menurut Freddy, dari 39 ton tembakau yang sudah dibeli itu pun, hanya 40 persen yang berasal dari petani tembakau Sumenep. “Selebihnya tembakau dari Kabupaten Pamekasan,” katanya, Jumat, 20 September 2013.

Soal harga, kata dia, PT Gudang Garam mematok harga tinggi, yakni Rp 36 ribu untuk tembakau kualitas A dan Rp 20 ribu untuk kualitas B. “Mungkin banyak yang belum panen, makanya sedikit yang jual tembakau,” Freedy menduga.

Pantauan di Kecamatan Ganding, sebagian besar petani belum memanen tembakaunya. Petani yang memanen tembakaunya mayoritas dari Desa Prancak dan Mandala. Didik Ahmat, petani Desa Ronganyar, memperkirakan panen raya tembakau baru akan terjadi pada Oktober mendatang. Mundurnya masa panen, kata dia, karena anomali cuaca yang memaksa petani tidak bisa menanam sesuai jadwal. “Kalau dipaksakan panen sekarang, kami rugi,” katanya.

Meski harga tembakau naik tinggi dibanding tahun lalu, petani masih mengaku rugi. Sebab, biaya tanam lebih tinggi dari biasanya. “Saya ini empat kali tanam ulang karena anomali cuaca. Kalau cuma Rp 36 ribu, tetap rugi,” tuturnya.

MUSTHOFA BISRI

Topik Terhangat

Penembakan Polisi | Tabrakan Anak Ahmad Dhani | Mobil Murah | Miss World | Info Haji



YOUR COMMENT